Friday, November 17, 2006
Film 2

Film lagi
Semalem, pas kebangun selagi migren itu, malah dapat ide nulis ini. Aneh kan... ;-)Dari muda sampai sekarang, aku termasuk penikmat film. Dulu, ga' cuma film, tapi juga sandiwara (di TV dulu kan ga ada sinetron. Adanya sandiwara. Yang seangkatan aku pasti pada inget kan...).Nah, dulu itu, aku menikmati film bener-bener sebagai visualisasi dari khayalanku. Tanpa embel-embel apa-apa. Seingatku, itu jaman-jamannya film Tom Sawyer (buku ceritanya dikarang Mark Twain), filmnya Grimms brother, Superman 1 , 2 dan sequel2nya...trus klu film Indonesianya, film Nakalnya anak-anak, ratapan anak tiri, Rano Karno and Lydia Kandau, film-filmnya Warkop (tapi film warkop dan ratapan anak tiri sih dari dulu itu aku ga' suka. Cuma berhubung ga ada film lain...ya terpaksalah. Belakangan malah sama sekali ga mau nonton).Lama-lama aku mulai melihat film dari sisi cerita dan acting pemainnya. Mulai ga’ terima klu isi cerita ga’ masuk akal.Klu isi film aneh, aku mulai mikir. Emang ada ya cerita kayak gitu dalam kehidupan sehari-hari. Inget dong film Catatan si Boy yang fenomenal itu ? Nah walau termasuk yang “terseret” wabah si Boy, tapi aku udah mulai mempertanyakan kesempurnaan si Boy.
Aku juga merhatiin beda film Indonesia dengan mayoritas film Amerika / Inggris. Film luar, umumnya sarat detil yang bermakna. Sementara film kita ? duh maaf ya, banyak detil yang ga’ berguna. Seringkali detil yang ditunjukkin ga’ ada kaitan apa-apa sama cerita film keseluruhan. Lihat film Six Sense…banyak sekali detil yang , kemudian, kita kenali sebagai clues untuk keutuhan cerita. Ingat scene apel, kursi dan peralatan makan yang siap untuk satu orang, dll. Nah film Indo yang lumayan, Arisan! Detilnya udah bermakna. Akting pemainnya juga ok banget. Perhatiin aktingnya Surya Saputra. Gaya dia duduk, negakkin punggung, nggeser duduk...duh so gay gitu lho (pst...postingan SS bakal berlanjut nih, ada cerita sendiri). Jangan bicara Arisan! yang di tv ya...udah masuk ngebosenin pleus bertele-tele menurutku.
Akting pemain juga masuk pengamatan. Yang menurutku bagus : Ria Irawan, Meriam Bellina (yang jaman dulu ya, bukan ketika sekarang main sinetron ya. Sekarang dia hiperbola banget deh aktingnya), Lydia Kandou.Step berikutnya, perhatianku bertambah lagi. Ada factor kostum dan make-up masuk perhatian. Menarik banget ngebayangin aku diserahin tugas ngatur kostum dan make up suatu film. Soalnya, aku sering gemes liat film Indonesia yang ga match kostum, make up ama perannya. Yang aku suka serial desperade housewife. Masing-masing peran pas banget dan konsisten dengan penampilannya.Lalu bertambah lagi ke teknik pembuatan.
Baca ini deh (klu ga nge-link, cari yg judulnya memiliki selera humor berbeda) . Nah, lama-lama aku juga ketularan. Aku mulai suka merhatiin teknik pengambilan gambar, pencahayaan, lokasi, dll. Suka mikir-mikir, kenapa untuk acting ini ngambil gambarnya di sini, lokasi di sini. Kenapa cahayanya gini dan gitu.Terakhir, aku suka merhatiin posternya. Nyambung ga’ ama isi film. Kenapa dari sekian adegan.scene, dipilih gambar yang itu untuk posternya. Bukankah poster = ringkasan isi film itu ? dan selayaknya mewakili isi film pleus menarik perhatian penonton ? Coba perhatiin film Banyu Biru yang posternya komedi sementara isinya serius. Kira-kira apa dasarnya ya bisa diputusin bertentangan begitu ? Ada yang tau ?
posted by Dianibung at
5:14 AM 1 comments links to this post

0 Comments:

Post a Comment

<< Home