Friday, August 03, 2007
MAHARANI

Bapak saya penggemar novel-novelnya Pearl S. Buck sejak lama. Saya tahu tapi tak pernah berusaha ikut membaca. Padahal, saya termasuk hobi membaca.
Alasannya, karena saya pikir, novel-novelnya terlalu berat, tidak menarik dan…ah pokoknya males aja.

Sekitar sebulan lalu, saya ke toko buku, dan lihat ada novel PSB yang baru, judulnya Maharani. Saya beli untuk Bapak sebagai oleh-oleh. Kebetulan, saya mau mudik.

Selang 2 minggu kemudian, saya mudik lagi. Bapak cerita kalau novel itu sangat bagus. Cerita detil tentang kaisar wanita China terakhir.

Entah karena memang tertarik dengan cerita Bapak, entah karena sedang tidak ada kerjaan, atau memang karena sudah waktunya…saya pun meminjam novel itu.

Dan….sejak lembar pertama saya terpikat. Novel ratusan halaman itu membuat saya rela begadang hingga dini hari, demi menyelesaikan cerita.
Lembar demi lembar saya baca dengan penuh kekaguman….
Two thumbs up!!

Selama membaca buku itu, saya terbuai ke alam lain. Ke jaman ketika dinasti China mulai diserang bangsa asing (filmnya The Last Emperor), ke jaman ketika kota terlarang masih aktif digunakan (dan saya jadi terus berimajinasi, seperti apakah kota terlarang, dan…saya jadi ingin ke sana!), ke jaman ketika kaisar masih punya banyak sekali selir, jaman ketika listrik belum marak di China dan candu masih aktif digunakan, jaman ketika orang kasim adalah sesuatu yang biasa…., dan banyak lagi.

Setiap kata dalam rangkaian kalimat, setiap kalimat dalam rangkaian bab…membawa saya seperti sedang menonton tayangan cerita. Sangat detil namun-hebatnya- tidak bertele-tele. Saya rasa, risetnya sangat luar biasa. Dan itu sangat terasa bagi pembacanya.

PSB tahu betul kapan harus menguraikan secara detil, tidak saja cerita, tapi juga deskripsi gerakan tokoh cerita, setting kisah, bahkan hingga pikiran dalam hati si tokoh, tapi, di saat-saat lain, secara ringkas PSB melewati waktu-waktu si tokoh dengan hanya satu dua kalimat, tanpa saya, sebagai pembaca, merasa janggal.

Terus terang, lewat buku ini, saya jadi mnegerti banyak pemikiran dan tingkah laku bangsa China. Hm…istilahnya sih, tak kenal maka tak sayang. Bukan berarti saya sekarang cinta sama China lho. Tidak begitu. Tapi, ya itu tadi, saya jadi mengerti budaya mereka. Tidak lagi terheran-heran dengan beberapa hal yang selama ini –rasanya- di luar akal ….

Konsistensi, riset, penggambaran detil dan cerita yang menarik, akhirnya membuat saya harus mengakui, saya menjadi seperti Bapak saya, penggemar PSB.

Saya jatuh cinta pada buku ini. MAHARANI

Labels: ,

1 Comments:

At 3:43 PM, Anonymous Anonymous said...

gak ingat buku yang mana yang pernah saya baca jeng, namun namanya saya kenal baik.

aku nanti cari deh bukunya, makasih ya jeng. salam buat bapak.

 

Post a Comment

<< Home