

Ini Bapak lagi di tepian Danau Maninjau.Ngobrol sama anak-anak setempat. Dilatar belakangnya Karamba (tempat pemeliharaan ikan yang langsung berada di air situ. Dibatasi jaring-jaring sebagai kandangnya) milik om Alen, adiknya mertua aku (berarti mertua aku juga sih keitungnya). Halaman ini, termasuk Karambanya terletak di halaman belakang rumahnya. Asik banget ga sih ?
Jadilah kita memandangi Maninjau dari halaman belakang rumahnya. Indah banget. Cuma suasananya enakan di Singkarak. Lebih panas pula di sinI.
Kalau di Singkarak yang ngetop Ikan Bilih (perhatiin deh di resto-resto Padang, suka ada tuh tulisan : Ikan Bilih, asli danau Singkarak), nah di Maninjau ada ikan kecil juga yang lebih besar sedikit dari Ikan Bilih (ga tau namanya), klik ini aja untuk liat wujudnya.
Masuk Maninjau, kita harus lewat The Famous KELOK 44.
Kalau di Singkarak yang ngetop Ikan Bilih (perhatiin deh di resto-resto Padang, suka ada tuh tulisan : Ikan Bilih, asli danau Singkarak), nah di Maninjau ada ikan kecil juga yang lebih besar sedikit dari Ikan Bilih (ga tau namanya), klik ini aja untuk liat wujudnya.
Masuk Maninjau, kita harus lewat The Famous KELOK 44.
Kebayang ga sih, nurunin bukit yang curam lewat belokan-belokan tajam yang pinggirnya jelas-jelas danau ? Dengan jalan yang pas buat 2 mobil ? Tapi belokannya musti gentian, ga bisa duaan masuk sekaligus. Klu supirnya udah biasa lewat situ, Insya Allah aman.
Bahaya tetep menghadang. Klu papas an ama supir lain yang ga pengalaman, nah itu yang gawat. Kata supir mobilku, yang Alhamdullillah orang asli situ, kecelakaan banyak terjadi di malam tahun baru, ketika supir amatiran untuk daerah situ banyak yang lewat-leat. Halah!
Oya, starting from Kelok 20, banyak monyet turun bebas ke jalan. Kira-kira sampai 10 kelok deh. Mereka ngarep kacang dari kendaraan yang lewat. Memang, sebelum Maninjau (dari Bukittinggi) ada penjual kacang rebus. Sebungkus besar Rp. 10.000.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home