Tuesday, November 06, 2007
Penjahat dan Korban, Kriminalitas Finansial dan Pelecehan Usaha
Saya heran, ada aja orang yang dengan semena-mena suka minta duit ama orang lain.
Jangankan tukang minta-minta di tikungan jalan atau di lampu merah, bahkan di kehidupan sosial sehari-hari aja, kejadian tersebut kerap terjadi. Bukan cuma saya yang ngalamin, tapi banyak teman saya juga ngalamin kejadian serupa. Cuma, ada yang jadi "korban" dan ada yang jadi ”penjahat” nya. Saya yakin, diantara kamu juga ada yang sering ngalamin.

Misalnya, teman kamu jualan baju. Memang unik sih modelnya. Tapi.... yang model unik begitu banyak juga dijual di tempat lain, sehingga, dengan harga yang teman kita jual itu, jadi gak masuk akal. Bahkan kalau mau jujur sih, jadi mahal karena udah ya terbatas pilihannya, gak bejibun kayak di mall, harganya pun memang benar-benar lebih mahal dari di mall.

Lalu, kamu menolak membeli dagangan teman kamu itu. Si teman merayu. Kamu tetap menolak. Lalu, keluarlah "kata-kata nyali peminta-minta" sebagai berikut,
” Beli dong say, kan cuma sekian rupiah ini, apalah artinya buat lo. Segitu sih cuma jajan lo doang kan.... ayo dong say beli, itung-itung nolong temen...”.

What????
Saya pandangi berganti-ganti wajah penjahat dan korbannya. Wajah si korban yang bengong, antara tidak senang, gak enak, pengen nabok, pengen kabur, macem-macem lah. Sementara wajah penjahat seperti serigala yang menyeringai penuh kemenangan seolah mendapatkan mangsa empuk yang siap disantap.
Untung.... bukan saya yang jadi korban, kalau saya yang jadi korban, waduh, panjang ceritanya.

Beberapa kata dalam kalimat sipenjahat saya kasih
stabilo.....
Penjahat bilang : Cuma sekian rupiah ??? Cuma....???

Berapapun si Cuma itu, berapa pun banyaknya duit si korban, tetep dong, si Cuma kan gak bisa didapat sambil merem. Memangnya si Cuma turun dari langit begitu saja ? Kalaupun si Cuma bisa dipetik dengan mudah dari pohon duit yang ditanam si korban, tetep dong, si korban punya usaha nanem si pohon duit, hingga tumbuh dan berbuah. Lha nyari bibit pohon duit aja kan susah, betul ga ?

Kok penjahat enak banget yak ngomong Cuma dan begitu saja nodong korbannya. Lha kalau memang Cuma, kenapa juga dia nodong...Cuma gitu lho.

Penjahat bilang :
segitu sih Cuma jajan lo doang.....
Wuih....sok tau banget yak segitu Cuma jajan si korban doang. Lha segitu sih Cuma ganjel kursi si korban, hehe. Maksud saya, Cuma jajan kek, Cuma tabungan kek, Cuma apa dan apa, kok penjahat usil banget sih....suka-suka dong....duitnya si korban, gak pake ribut minta-minta, kok sekarang di”perkara”in sama si penjahat.

Penjahat bilang :
itung-itung nolong temen.
Nolong temen ? Temen seharusnya gak ”menjatuhkan” temannya bukan ? Lalu teman macam mana yang menodong teman sendiri ?

Lagipula, dari sisi mana si penjahat harus ditolong. Dia bekerja, punya penghasilan, punya suami yang bertanggung jawab, intinya, hidup aman damai. Kalaupun kenapa-kenapa, dia masih mampu untuk membantu dirinya sendiri mengatasi masalahnya. Lalu, kenapa harus ditolong?
Bukankah jauh lebih mending si korban menolong mereka yang memang benar-benar memerlukan pertolongan? Anak yatim, para janda ?

Anyway, by the way,...
Penjahat Cuma ngeliat si korban banyak duit. Titik. Dia gak tahu, perjuangan si korban mengumpulkan duit. Gimana si korban, yang kerja sebagai fotografer freelance di beberapa majalah beken, sekaligus fashion stylist, harus pontang panting kerja. Bangun ketika matahari belum lagi berniat muncul, membereskan rumah, menitipi seribu pesan pada mbak pengasuh agar putranya diurus dengan baik selama ia tidak ada, mencium pipi suami yang masih terlelap untuk meminta restu ia bekerja, menyetir sendiri mobilnya yang keluaran tahunan lalu, menembus gelapnya Jakarta, agar segera sampai di lokasi pemotretan.

Sampai di sana, si model berulah. Cuaca tidak mendukung, padahal tenggat waktu sudah tak sabar ingin menghampiri. Asisten mendadak kerja berantakan karena kurang tidur setelah semalam mereka pun pulang larut menyelesaikan pekerjaan.

Dari lokasi pemotretan, ia bergegas ke gedung redaksi majalah yang akan ia garap rubrik fashionnya. Semua berjalan lancar sampai didapati properti pakaian robek di satu sisi yang tak mungkin diakali. Dengan sigap si korban, mengganti pakaian, yang tentu diikuti penggantian set dan dandanan model, dan tentu saja itu tak gampang. Semua dilakukan karena si korban bertanggung jawab penuh pada sessi tersebut.

Saat makan siang, si korban hanya makan burger dari restoran siap saji yang dekat dengan kantornya, dalam perjalanan menuju tempat kerja terakhirnya hari itu , karena mengejar waktu. Si korban menelepon mbak pengasuh di rumah, Alhamdullillah, semua baik saja. Si anak sempat merebut telepon dari tangan si mbak dan berujar,
” Mama, cepat pulang ya...aku mau main sama mama”, kalimat polos seorang anak yang rindu mamanya. Membuat si korban tergiris hatinya.

Ketika akhirnya pekerjaan hari itu selesai, si korban pulang dengan hati tenang namun badan capai luar biasa. Anaknya sudah menyambut dengan muka ceria,
”Mama cepat pulang, asik....kita main ya Ma...”, ajakan yang tentu tak dapat dan tak ingin ditolaknya, meski tubuh sudah ingin rebah.

Ini baru perjalanan satu hari si korban. Kalau kemudian, si korban menampuk banyak uang sebagai kompensasi pekerjaannya, apakah salah ? Apakah dengan begitu maka ia dapat menggunakan uangnya dengan tidak bijaksana ? Mengingat begitu banyak yang ia lakukan, dan terutama me”nyita” kebersamaannya dengan si anak yang tidak dapat dihitung secara finansial.

Apakah, ketika ia ”mumet” ngurusin modelnya yang bertingkah, sementara deadline sudah diambang mata, ketika alat fotografinya ngadat sementara pekerjaan sudah menunggu, ketika harus menghadapi konsumen yang mendadak berubah pikiran sementara persiapan untuk rencana awal sudah siap 100%, ia pernah meminta bantuan si penjahat ? apakah setitik saja, si korban pernah dibantu dalam bekerja oleh si penjahat ?

Sungguh, kiranya si penjahat harus lebih bijaksana dalam melakukan kejahatannya.....

Buat si korban, tabah ya Ban.... saya sering juga mengalami tindak kejahatan seperti itu, walau lain versi.

Peace!

Labels: , ,

2 Comments:

At 7:28 PM, Anonymous Anonymous said...

Aku juga heran lho sama model penjahat yg kayak gitu, kok bisa ya dia maksa2 orang lain utk beli, kalau aku nggak bakat blaz jualan, mo nawarin ke orang aja sering banyak nggak enaknya he..he...

 
At 3:56 AM, Anonymous Anonymous said...

hiks..jadi sediiihhh..:((

 

Post a Comment

<< Home