Sumpe, ga sangka banget, postingan ini (klik di sini), berakibat begini (klik di sini)
Selama ini, ”lempar-lemparan” PR sudah biasa di kalangan blogger. Biasanya sih, semua senang. Yang dilempar senang yang melempar juga senang. Tapi, memang selalu, ada sesuatu untuk pertama kali. Seperti kejadian ini.
Orang yang saya lempar, ga senang, ngedumel, dst karena lemparan saya itu. Dia keberatan banget. Katanya, ga bermaksud menyinggung saya, bahwa itu adalah pekerjaan kurang penting dan tidak berguna. Karena tujuan utama dia ngeblog adalah untuk menjalin komunikasi yang murah dengan keluarganya.
Tapi, sambil misuh-2 tadi, PR-nya dikerjain juga. Walau dia rubah, 8 habits jadi 8 facts.
Saya jadi terdiam, bengong...Waduh, Ramadhan nih, godaan-godaan............
Inti lempar-2an PR yang saya tangkap (dan beberapa teman blogger yang –jadinya, karena kasus ini- saya tanya pendapatnya) adalah :
Menjalin silahturahmi. Karena biasanya, semakin sering kamu dilempar dan melempar PR , itu artinya kamu makin banyak teman bloggernya. Makanya, biasanya orang senang dilempar dan melempar.
Membuka diri. Karena biasanya, PR berisi suatu penjelasan tentang kamu. Ga melulu pribadi kamu, bisa aja cuma isi tas kamu, cuma hal-hal yang terakhir kamu kerjain, dst-nya. Tapi semuanya tetep bisa menceritakan diri kamu.
Itu bikin kamu semakin dekat (dan didekati) teman-2 blogger
Bukan sesuatu yang wajib. PR bukan sesuatu yang wajib kudu harus dikerjakan. Sama sekali bukan. Not a must have thing –lah. So, wajar aja, biasa aja klu seorang blogger ga mo ngerjain PR yang dilemparin ke dia. Biasanya sih si korban melapor ke tertuduh bahwa korban tidak bisa (karena ga mau, karena ga suka topiknya atau sibuk atau apa aja lah sebabnya) ngerjain PR tersebut. Dan, tentu, pelempar juga ga akan maksa. Monggo silahkan yang enaknya gimana...
Nah dengan rumusan di atas (rumusan yang ga baku pula), saya jadi menyayangkan sikap salah seorang korban pelemparan saya itu.
Dia ngerjain PR-nya, tapi sambil ngaku keberatan... lha terus gimana maksudnya ? Makanya saya kasih judul postingan ini Blogger Abu-abu.
Selama ini, ”lempar-lemparan” PR sudah biasa di kalangan blogger. Biasanya sih, semua senang. Yang dilempar senang yang melempar juga senang. Tapi, memang selalu, ada sesuatu untuk pertama kali. Seperti kejadian ini.
Orang yang saya lempar, ga senang, ngedumel, dst karena lemparan saya itu. Dia keberatan banget. Katanya, ga bermaksud menyinggung saya, bahwa itu adalah pekerjaan kurang penting dan tidak berguna. Karena tujuan utama dia ngeblog adalah untuk menjalin komunikasi yang murah dengan keluarganya.
Tapi, sambil misuh-2 tadi, PR-nya dikerjain juga. Walau dia rubah, 8 habits jadi 8 facts.
Saya jadi terdiam, bengong...Waduh, Ramadhan nih, godaan-godaan............
Inti lempar-2an PR yang saya tangkap (dan beberapa teman blogger yang –jadinya, karena kasus ini- saya tanya pendapatnya) adalah :
Menjalin silahturahmi. Karena biasanya, semakin sering kamu dilempar dan melempar PR , itu artinya kamu makin banyak teman bloggernya. Makanya, biasanya orang senang dilempar dan melempar.
Membuka diri. Karena biasanya, PR berisi suatu penjelasan tentang kamu. Ga melulu pribadi kamu, bisa aja cuma isi tas kamu, cuma hal-hal yang terakhir kamu kerjain, dst-nya. Tapi semuanya tetep bisa menceritakan diri kamu.
Itu bikin kamu semakin dekat (dan didekati) teman-2 blogger
Bukan sesuatu yang wajib. PR bukan sesuatu yang wajib kudu harus dikerjakan. Sama sekali bukan. Not a must have thing –lah. So, wajar aja, biasa aja klu seorang blogger ga mo ngerjain PR yang dilemparin ke dia. Biasanya sih si korban melapor ke tertuduh bahwa korban tidak bisa (karena ga mau, karena ga suka topiknya atau sibuk atau apa aja lah sebabnya) ngerjain PR tersebut. Dan, tentu, pelempar juga ga akan maksa. Monggo silahkan yang enaknya gimana...
Nah dengan rumusan di atas (rumusan yang ga baku pula), saya jadi menyayangkan sikap salah seorang korban pelemparan saya itu.
Dia ngerjain PR-nya, tapi sambil ngaku keberatan... lha terus gimana maksudnya ? Makanya saya kasih judul postingan ini Blogger Abu-abu.
Sebab dalam psikologi, jika ada ketidakjelasan dalam sesuatu hal, atau sesuatu itu banyak faktornya, ga bisa secara jelas langsung dibilang hitam atau putih, maka kita sebut "Grey Area"
Sungguh saya ga sangka blio orang yang seperti itu karena , walau dia ngakunya blognya bertujuan untuk mendapatkan alat komunikasi termurah dengan keluarganya (dia tinggal di LN), tapi dia rajin berkunjung ke blog saya (dan blog-2 orang lain). Jadi saya kira dia pun seperti blogger lain....(makanya, don't jump into conclusion ya jeng.... salah kan.... hehe)
Keknya, mending dia ga’ usah ngerjain PR aja ya...toh ga ada sangsinya. Daripada gini, malah bikin ga’ enak....
Fiuh...ada-ada aja.... tapi ya itulah, selalu ada pertama kali, sesuatu ada yang pertama.
Sungguh saya ga sangka blio orang yang seperti itu karena , walau dia ngakunya blognya bertujuan untuk mendapatkan alat komunikasi termurah dengan keluarganya (dia tinggal di LN), tapi dia rajin berkunjung ke blog saya (dan blog-2 orang lain). Jadi saya kira dia pun seperti blogger lain....(makanya, don't jump into conclusion ya jeng.... salah kan.... hehe)
Keknya, mending dia ga’ usah ngerjain PR aja ya...toh ga ada sangsinya. Daripada gini, malah bikin ga’ enak....
Fiuh...ada-ada aja.... tapi ya itulah, selalu ada pertama kali, sesuatu ada yang pertama.
Dan jangan lupa, bahasa tulisan seringkali bermakna lain karena ketiadaan faktor temu muka yang memungkinkan terlihatnya intonasi, raut wajah / ekspresi, suasana, dan seterusnya.
Labels: Kasus, Lain-lain, Pengalaman, Psikologi, quiz, Sharing


2 Comments:
gue termasuk yang komplain yah wakakaka.. suka lagi di timpuk PR itu artinya gue masih diinget sama temenku, cuma kadang tuh waktu buat ngerjain nya aja yang gak ada... so kalo ngerjain PR jadinya agak2 lama gitu hehehe...
hehe, daku tmasuk jarang ngerjain PR lho. 'n gak ngerasa wajib jg sih ngerjainnya...palingan dihukum ibu guru di pojok kelas hahaha. ada2 aja itu temennya, klo gak mo ngerjain ya udah gak usah...lucu :p
Post a Comment
<< Home