Monday, May 07, 2007
Postingan Tulisan di HW

Tulisan saya di HW berbeda dengan biasanya. Kali ini "membahas" tentang perkawinan. Bu Sawitri, supporter mental saya, pasti senang kalau tahu ini (maaf bu...belum ngabarin, hiks).

Berikut kurang lebihnya :
Kasus 1.
Sandra, lulusan S1, sulit mencari kerja. Padahal dia butuh karena suaminya bangkrut. Anak 1. Awalnya Sandra bersama teman-teman sudah mempunyai usaha sendiri. Tapi kemudian tutup. Pada saat yang sama suaminya di –PHK. Lebih dari separuh uang pesangon dia investasikan ke bisnis temannya, yang kemudian bangkrut. Mereka pindah menumpang di rumah orang tua Sandra. Gaya hidup berubah total. Jangankan ngopi-ngopi, untuk beli bensin pun harus cermat.
Suami Sandra, tertekan. Merasa malu pada mertua, tapi kerja tak kunjung dapat walau sudah keras berusaha. Salah bicara sedikit, Sandra jadi bicara panjang lebar ke masalah uang. Akibatnya, suami Sandra malah bicara dengan Sandra.

Kasus 2.
Setahun setelah menikah, suami Mira mutasi ke Jerman. Mira, akan menyusul dalam waktu empat bulan, setelah pekerjaan di sini beres. Namun, ternyat dalam empat bulan itu, suaminy terlibat perselingkuhan. Ketika Mira menyusul, keadaan tidak membaik karena Mira mengalami masa-masa sulit. Mira stress karena tidak bekerja dan sulit beradaptasi. Suaminya tidak memahami kesulitan Mira, terutama karena suaminya pernah kuliah di sana sehingga sudah lebih terbiasa dengan situasi di sana. Setelah setahun, Mira memutuskan pulang ke Indonesia dan suaminya tetap di sana.

Tanggapan :
Pada ke dua kasus, masalahnya ada pada komunikasi yang tidak berada pada ruang yang sama. Sandra dan suami memiliki perbedaan sudut pandang sehingga komunikasi tidak berjalan lancar. Masalah yang ada tidak dikomunikasikan dengan baik. Masing-masing menahan diri untuk tidak mengungkapkan kekhawatiran / ketakutan / keinginan pribadi, dengan maksud menjaga perasaan pasangan. Yang terjadi adalah masing-masing menjadi tegang, sensitive berlebihan, dan bukannya bahu membahu bersatu mengatasi masalah.
Pada kasus Mira, masalah pada komunikasi kembali terjadi. Ditambah kurang adanya pengertian dari masing-masing pihak.

Komunikasi adalah penyampaian ide / pedapat seseorang kepada orang lain, baik verbal ataupun nonverbal. Jika pasangan sulit menyampaikan maksudnya secara lisan, cobalah baca ekspresi wajahnya, bahasa tubuhnya. Dan jika kita sendiri yang sulit untuk menyampaikan ide atau perasaan, temukan suatu bentuk komunikasi yang paling tepat yang mampu menyampaikan maksud kita secara jelas pada pasangan, entah secara lisan, tulisan, atau bahasa tubuh dan ekspresi. Bentuk komunikasi yang tidak tepat akan merugikan kita sendiri maupun pasangan karena pesan yang disampaikan tidak terjadi.
Setiap pasangan akan memiliki cara berkomunikasi yang berbeda-beda, tergantung latar belakang pendidikan, tingkat social dan karakteristik kepribadian. Namun, walau berbeda, ada cara-cara yang dapat digunakan untuk membuat komunikasi menjadi lebih efektif.
1. Peka terhadap karakteristik pasangan. Tidak perlu menjadi psikolog untuk dapat memahami karakteristik pasangan. Cukup dengan memahami sifat, kebiasaan, juga gaya bicara dan topic pembicaraan pasangan.
2. Bicaralah di saat yang tepat. Siapapun dia, tentu akan enggan berbicara hal serius ketika sedang kelelahan, kelaparan, atau terburu-buru. Pilihlah waktu yang tepat untuk masalah yang tepat.
3. Gunakan gaya bahasa yang sesuai dalam bentuk yang tepat. Jika pasangan anda tipe orang yang tidak suka berlama-lama bicara, maka anda harus berlatih menyampaikan maksud Anda dengan ringkas. Lebih baik merubah gaya komunikasi anda tapi maksud anda tecapai, daripada bertahan dengan gaya bahasa anda tapi pasnagan anda tak mengerti apa yang ingin anda sampaikan.

Poin-poin penting dalam Pernikahan :
1. Pernikahan adalah Komitmen.
Seperti halnya organisasi, pernikahan juga merupakan bentuk kumpulan dari dua individu yang berkumpul untuk mencapai tujuan bersama, disamping adanya aturan yang menuntut anggotanya mengesampingkan kepentingan pribadi guna tercapainya tujuan bersama. Adanya landasan cinta seharusnya membuat peraturan yang ada didalamnya lebih nikmat dijalani. Dan masing-masing individu dalam pernikahan itu rela dan senang hati mengesampingkan kepentingan diri sendiri demi kepentingan bersama untuk orang yang dicintai dan dirinya sendiri.
2. Cinta Bukan Segalanya
Dasar cinta dalam suatu perkawinan kadang membuat banyak pasangan yang secara sadar atau tidak mengatasnamakan cinta untuk segala perarturan yang terjadi dalam pernikahannya. “Keuntungan” satu pihak dan “kerugian” di pihak lain, pemerkosaan karakter, membohongi pasangan karena takut menyakiti, dianggap wajar dengan dalih atas nama cinta. Sementara tanggung jawab, saling menghargai, kejujuran dan hal-hal penting lainnya dalam membina pernikahan, justru terabaikan.
3. Tanggung Jawab
Tanggung jawab mengandung banyak poin lain yang terkait di dalamnya adalah sangat penting dalam pernikahan. Sikap saling menghargai, saling menghormati, jujur, terbuka, setia, dan meletakkan kepentingan bersama di aas kepentingan pribadi wajib dilakukan masing-masing pihak atas dasar kesadaran pribadi.
4. Pernikahan Tidak Mematikan Kepribadian Seseorang
Idealnya, dengan menikah, seseorang bisa memperkaya kepribadiannya, karena mereka dapat saling melengkapi dan sekaligus belajar menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri maupun orang lain. Masing-masing pun dapat mengembangkan diri denganlebih optimal karena didukung individu lainnya.

Labels: ,

When Crisis calls, Herworld Mei 2007
Di Herworld yang baru, edisi Mei 2007 ini, aku jadi narasumber untuk HW Feature, WHEN CRISIS CALLS.

Intinya ada beberapa masalah yang kemudian aku bahas. Masalah dalam perkawinan. Ada yang soal ekonomi, ada yang selingkuh karena terpisah jarak.
Aku membahas ab,c....
Bahwa yang penting adalah....
Bahwa yang perlu diperhatikan adalah... nanti ya dipostingnya :-)

Aku musti goreng dendeng balado dulu nih...maafkan....

Labels: ,